Joomla Free Template by FatCow Hosting

Puasa Bagi Diabetes di Bulan Ramadhan

Published on Sunday, 28 September 2014

Berpuasa di Bulan Ramadhan bagi Penyandang Diabetes

 

Apakah Penyandang Diabetes Boleh Berpuasa di Bulan Ramadhan?

Untuk menentukan penyandang diabetes boleh berpuasa atau tidak, maka penyandang diabetes dikelompokkan menjadi 4.

Kelompok I

Penyandang diabetes yang tidak memerlukan obat diabetes, atau kadar gulanya sudah terkendali dengan cara mengatur makan dan olahraga. Pada kelompok ini dapat melaksanakan ibadah puasa seperti orang lain yang tidak diabetes

Kelompok II

Penyandang diabetes yang memerlukan obat diabetes, di samping pengaturan diet dan olahraga. Pada kelompok ini dapat melakukan ibadah puasa dengan melakukan perubahan dalam perencanaan makan, minum obat dan olahraga

Kelompok III

Penyandang diabetes kelompok III adalah penyandang yang memerlukan injeksi insulin atau menggunakan kombinasi injeksi insulin dengan obat minum diabetes. Kelompok III ini masih boleh berpuasa bila kebutuhan insulinnya hanya 1 kali atau 2 kali dalm sehari, atau menggunakan kombinasi 1 kali injeksi insulin dan minum obat diabetes. Sedangkan bagi yang memerlukan lebih dari 2 kali injeksi insulin atau 2 kali injeksi ditambah minum obat diabetes, sebaiknya tidak berpuasa karena kadar gulanya tidak stabil, mudah terjadi komplikasi akut seperti hipoglikemia. Bagi yang menggunakan insulin pagi hari injeksi diubah saat berbuka, bagi yang mengunakan insulin 2 kali sehari maka injeksi diubah saat berbuka dan sahur. Pada pengguna insulin yang berpuasa pengawasan dan kontrol gula darah harus lebih ketat.

Kelompok IV

Penyandang diabetes yang mempunyai komplikasi kronik, seperti gangguan ginjal dan gangguan jantung, sebaiknya tidak berpuasa karena dapat memperberat komplikasi yang telah ada.

Petunjuk bagi Penyandang Diabetes yang Berpuasa

-          Sebaiknya sebelum berpuasa, kadar gula darah sudah terkendeli baik, kadar gula darah puasa di bawah 120 mg/dL dan 2 jam setelah makan di bawah 180 mg/dL

-          Pada pengaturan makan, usahakan jumlah makan per hari selama bulan puasa kurang lebih sama dengan jumlah makan saat tidak puasa

-          Pembagian porsi makan menjadi 40 % saat berbuka, 10 % saat tarawih, 10% sebelum tidur malam dan 40 % saat makan sahur

-          Makan sahur sebaiknya dilambatkan mendekati akhir sahur atau mendekati imsak

-          Lakukan aktivitas fisik sehari-hari seperti biasa, istirahat sebentar setelah dzuhur

-          Bila ingin berolahraga, laksanakan sesudah tarawih

-          Bagi yang biasa minum obat diabetes satu kali di waktu pagi hari, diubah menjadi saat berbuka puasa

-          Bagi yang biasa minum obat diabetes dua kali, maka obat yang biasa diminum pagi hari diubah menjadi saat berbuka, dan obat yang biasa diminum sore hari di ubah menjadi saat sahur. Obat yang diminum saat sahur kalau bias dikurangi menjadi setengahnya untuk mencegah hipoglikemi pada sore hari. Sebaliknya, obat yang diminum saat berbuka bila perlu ditambah

-          Selama puasa selain makanan yang harus diperhatikan, jumlah minum tidak boleh berkurang daru kebutuhan normal, yaitu 6 – 8 gelas sehari, yang harus dihabiskan antara waktu berbuka sampai sahur, jadi harus banyak minum pada malam hari

-          Saat berbuka, dianjurkan makan makanan segar dan bergizi seperti buah-buahan kmeudian diikuti dengan makan utama. Batasi makanan yang manis atau mengandung banyak gula

-          Penyandang diabetes dengan kadar gula darah cenderung tinggi, sebaiknya untuk pemanis makanan/minuman, menggunakan gula rendah kalori

-          Bagi yang kadar gula darahnya cencerung rendah boleh menggunakan gula biasa secara terbatas, namun porsi makanan yang lain harus dikurangi

-          Makan buah kurma sebatas 3 butir masih dibolehkan

-          Pada saat sahur sebaiknya jangan makan makanan manis, lebih baik makan nasi secukupnya (sekitar 120 g), sayuran, ikan, telur atau daging

Pemeriksaan Gula Darah

Sebaiknya penyandang diabetes tetap melakukan pemantauan kadar gula darah, pemeriksaan yang biasa dilakukan puasa dan 2 jam setelah makan, diubah menjadi sore hari menjelang buka dan 2 jam setelah berbuka, atau pagi hari.

Kadar gula darah harus tetap terkendali, menjelang sore hari antara 70 -120 mg/dL, hati – hati, jangan sampai di bawah 70 mg/dL. Kadar gula darah 2 jam setelah berbuka, jangan lebih dari 180 mg/dL, gula darah pagi tidak lebih dari 180 mg/dL. Bila kadar gula tidak terkendali atau naik, maka dilakukan pengaturan kembali dalam jumlah makan atau minum obat diabetes, dan segera konsul ke dokter. Sebaliknya bila kadar gula darah menje;ang berbuka menjadi sangat rendah, atau dibawah normal, harus hati – hati, makan sahur harus ditambah atau obat diabetes yang diminum saat sahur haru dikurangu dan segera konsul ke dokter. Pemeriksaan laboratorium lain, seperti kolesterol, asam urat, trigliserida, ureum, kreatinin dapat dilakukan sore hari

 

Hipoglikemi

Hipoglikemi adalah keadaan dimana kadar gula darah sangat turun dan kadang – kadang dapat terjadi pada saat berpuasa, terutama sore hari menjelang berbuka. Adapun tanda – tandanya, gelisah, berkeringat dingin, gemetar, berdebar – debar, rasa kesemutan pada lidah dan bibir, penglihatan ganda atau dobel, dan bingung. Bila hal ini terjadi, segera minum air gula, puasa dibatalkan, dan bila berlanjut dengan penurunan kesadaran, harus segera dibawa ke rumah sakit.

Hits: 3417